Makin Terpadu antar Kampung

Integrasi usaha antar kampung sejak awal program diharapkan dapat terjadi. Melihat kebiasaan masyarakat yang bekerja sendiri‐sendiri, rasanya sulit terwujud. Namun berkat kegigihan pendamping di lapangan dan dukungan pemangku kepentingan setempat, semua menjadi mudah. 16 usaha sudah mulai tumbuh, satu sama lain mulai terbangun integrasi usaha.

Contoh di Kampung Lapang adalah satu dari enam kampung di Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong yang menjadi bagian dari Program Integrated Farming System (IFS) atau Pertanian Terpadu. Terdapat tiga kelompok usahatani padi dan palawija dengan total anggota 48 petani; dua kelompok usaha ternak domba dengan total anggota 26 peternak; dan satu Himpunan Wanita Tani (HWT), yang beranggotakan 52 orang ibu rumah tangga; yang didampingi dalam program IFS tersebut. Program yang dimulai sejak bulan Oktober 2011 ini, telah menunjukkan hasil yang nyata dalam mengoptimalkan potensi usahatani yang ada di kampung tersebut.

Saling keterkaitan antara usahatani padi dan palawija dengan usaha ternak domba dan dengan kegiatan ibu‐ibu HWT semakin erat. Usahatani padi dan palawija secara organik atau semi organik menjadikan sumber makan ternak domba terjamin kesehatannya. Disi lain, usahatani tersebut sangat membutuhkan pupuk kandang yang dihasilkan dari peternakan domba. Pupuk kandang juga digunakan sebagai media tanam dalam polybag, yang dibuat oleh para ibu HWT di Kampung Lapang, untuk tanaman sayur dan obat‐obatan herbal yang dibudidayakan di pekarangan mereka. Selain untuk konsumsi rumah tangga, tanaman herbal juga dimanfaatkan sebagai suplement kesehatan bagi ternak domba mereka. Ibu‐ibu HWT juga menyediakan bibit tanaman sayuran, seperti kacim, cabe rawit, cabe, saledri, dan bayam yang akan ditanam bapak‐bapak petani di sewah mereka, setelah musim padi selesai. Bahkan HWT di Kampung Lapang juga memiliki kegiatan usaha pembibitan tanaman Jengjeng untuk dijual maupun untuk kebutuhan sendiri.

Integrasi usaha di Kampung Lapang masih secara horizontal antara usahatani padi dan palawija, peternakan domba dan usaha pemanfaatan pekarangan oleh ibu‐ibu HWT. Selain usaha pembibitan sayuran dan Jengjeng oleh HWT, belum ada unit usaha penyediaan input yang lain, seperti pembenihan padi dan pembuatan kompos. Di Kampung Lapang juga belum terdapat unit pengolahan dan pemasaran hasil yang mampu memberikan nilai tambah dari produk mereka, seperti pengemasan dan pemasaran beras organik.