Mantap! Gekbrong Jadi Pusat Pertanian Sehat di Cianjur

POJOKJABAR.com, CIANJUR – Sejak dulu Cianjur dikenal sebagai salah satu daerah penghasil beras terbaik di Indonesia. Itu sebabnya upaya untuk menjaga kualitas beras cianjur terus dilakukan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat dan juga sektor swasta. AQUA Grup yang menjalankan kegiatan operasional melalui pabriknya di kecamatan Gekbrang pun telah menjalankan program pengembangan pertanian sehat secara terpadu sejak pabrik mulai dibangun pada tahun 2009.

“Program ini dilaksanakan secara berkelanjutan kerjasama dengan masyarakat di kecamatan Gekbrong dan LSM,” kata Direktur Aqua Grup Rachmat Hidayat, seusai menghadiri peresmian penetapan Kecamatan Gekbrong sebagai pusat pertanian sehat di Desa Kebon Peteuy Gekbrong Cianjur, Rabu (25/5).

Menurut Rachmat, pengembangan program pertanian sehat di kecamatan Gekbrong ini terus dilakukan oleh Himpunan Petani Organik Cianjur (HIPOCI). Kini Hipoci yang beranggotakan sekitar 700 petani telah mampu menghasilkan beras 133 ton per musim tanam.

“Hasil produksi itu telah mampu mememuhi kebutuhan konsumen beras sehat di Cianjur, Bandung dan Jakarta,” paparnya.

Rachmat memaparkan, penetapan kecamatan Gekbrong sebagai pusat pertanian sehat di cianjur ini merupakan hasil kerjasama Hipoci, Pemkab Cianjur dan Aqua Grup.

Kerjasama ini diarahkan agar beras sehat hasil produksi Hipoci dapat didistribusikan atau dijual oleh para pengelola Aqua Home Service (AHS), di Jabodetabek.

“Jadi AHS, selain mendistibusikan produk Aqua galon, juga akan menjual beras sehat dari Kecamatan Gekbrong,” jelasnya.

Sementara itu, Humas Aqua Gekbrong, Jajang memaparkan, pada hari ini juga kita menyaksikan peluncuran beras sehat merk Orisa yang diolah dengan menggunakan system pertanian ramah lingkungan dan peresmian rumah penggilingan padi. Acara peresmian ini juga ditandai dengan penanaman padi sehat oleh 1000 orang di atas lahan seluar lima hektar yang diiringi penampilan kesenian tradisional.

“Para pengujung juga dapat melihat secara langsung hasil produksi Hipoci berupa produk perikanan, pertanian, peternakan dan makanan,” papranya.

Terpisah, Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar yang diwakili wakil bupati Cianjur, Herman Suherman memaparkan, keberadaan Hipoci dan kiprahnya kemudian membuat Kecamatan Gekbrong kini ditetapkan sebagai pusat pertanian sehat di kabupaten cianjur.

“Dengan ditetapkannya Kecamatan Gekbrong sebagai pusat pertanian sehat di cianjur diharapkan lahan pertanian di Gekbrong dapat dikelola secara optimal, sehingga pendapatan petani pun meningkat,” imbuhnya.

Sumber:
http://jabar.pojoksatu.id/cianjur/2016/05/26/mantap-gekbrong-jadi-pusat-pertanian-sehat-di-cianjur/3/

Cianjur Mulai Giatkan Pertanian Sehat

PEMERINTAH Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mencanangkan Kecamatan Gekbrong sebagai wilayah pertanian sehat berbasis lingkungan. Saat ini pertanian di Cianjur sudah menggunakan berbagai bahan organik. “Hasil produksi pertanian berupa beras organik, selain menyehatkan juga lebih bagus dan mahal. Penggunaan bahan-bahan organik juga menjadi upaya penyelamatan lingkungan,” kata Wakil Bupati Cianjur Herman Suherman seusai menghadiri acara penanaman padi organik di Desa Kebonpeuteuy, Kecamatan Gekbrong, Rabu (25/5). Pengembangan program pertanian sehat di wilayah itu dilakukan Himpunan Petani Organik Cianjur, yang beranggotakan sekitar 700 orang. Setiap musim tanam, 133 ton beras sehat organik diproduksi dan dipasarkan ke Cianjur, Bandung, dan Jakarta.

Sumber:
http://www.mediaindonesia.com/news/read/47313/cianjur-mulai-giatkan-pertanian-sehat/2016-05-26

Wakil Bupati Targetkan Kecamatan Sentra Padi Organik

Antarajabar.com – Wakil Bupati Cianjur, Jabar, Herman Suherman, menargetkan sejumlah wilayah penghasil padi di wilayah tersebut menjadi sentra padi organik seperti di Kecamatan Gekbrong selain sebagai penghasil padi dengan jenis Pandawangi.

“Harapan kami tidak hanya di Gekbrong tapi diseluruh kecamatan yang menjadi sentra pertania, dapat menghasilkan beras organik, selain ramah lingkungan harga jual beras organik lebih mahal dari padi lain, sehingga dapat meningkatkan taraf ekonomi petani,” katanya usai melakukan penanaman padi organik bersama Himpunan Petani Organik Cianjur Indonesia di Desa Kebon Peuteuy, Kecamatan Gekbrong, Rabu.

Kegiatan tersebut didukung penuh Aqua Group, sebagai bentuk CSR yang diberikan produsen air mineral terbesar di Indonesia.

Dia menjelaskan, dengan menanam padi organik, petani tidak akan lagi mengalami kesulitan untuk mendapatkan pupuk non organik yang harganya selalu dikeluhkan mahal ketika musim tanam tiba.

“Selain itu, pemanasan global dapat diatasi kalau semua tanaman di Cianjur tidak lagi mengunakana pupuk non organik yang dapat merusak lapisan ozon,” katanya.

Bahkan ungkap dia, pasangan Irvan dan Herman akan “Menjagokan” kecamatan yang merupakan lumbung padi Cianjur lainnya, untuk mengembangkan lebih luas lahan yang ditanami padi organik.

“Saat ini kita punya jago Kecamatan Warungkondang yang terkenal dengan beras Pandanwanginya, jadi tidak salah kalau Gekbrong terkenal dengan beras organiknya,” kata mantan Dirut PDAM itu.

Sementara Karyanto Wibowo Direktur Sustainable Developmen Aqua Group, mengatakan, sejak berdirinya pabrik Aqua di wilayah tersebut 2009, pihaknya telah menjalankan program pengembangan pertanian sehat secara terpadu , dimana program tersebut dilaksanakan secara bekerlanjutan bekerjasama dengan warga Kecamatan Gekbrong.

“Selanjutnya program tersebut, terus dilakukan Hipoci yang hingga saat ini memiliki 700 anggota petani dan mampu menghasilkan 133 ton beras organik setiap panen. Hasil produksi tersebut mampu memenuhi kebutuhan beras sehat untuk warga di Cianjur, Bandung dan Jakarta,” katanya.

Dia menjelaskan, untuk target ke depan pihaknya berharap Hipoci dapat terus menambah anggotanya dari kecamatan lain penghasil beras di Cianjur, dimana tercatat puluhan petani di Kecamatan Warungkondang dan Cibeber telah mendaftarkan diri untuk mengembangkan padi organik.

“Tidak hanya pembinaan Aqua Group juga menyediakan lahan pemasaran untuk beras organik tersebut, dimana resepon pasar cukup tinggi di wilayah Jakarta dan Bandung. Kami melibatkan Aqua Home Servis di Jakarta untuk menjual beras organik dari Gekbrong pada konsumennya selain menawarkan Aqua dalam kemasan galon,” katanya.

Sumber:
http://www.antarajabar.com/berita/58168/wakil-bupati-targetkan-kecamatan-sentra-padi-organik

Tanam Padi Organik, Gekbrong Jadi Pusat Pertanian Sehat

TEMPO.CO, Jakarta – Kelompok petani di Cianjur yang beranggota sekitar 700 orang mulai menanam padi khusus organik. Program ini didukung Pemerintah Kabupaten Cianjur dan perusahaan Aqua Grup.

Himpunan Petani Organik Cianjur (Hipoci) ini membentuk Pusat Pertanian Sehat yang berlokasi di Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur.

Mereka menanam padi khusus organik berlabel Orisa yang bisa menghasilkan padi sebanyak 133 ton per musim tanam. “Kami harap program ini bisa meningkatkan pendapatan para petani serta menghasilkan produk beras yang sehat,” kata Wakil Bupati Cianjur Herman Suherman di Cianjur, Rabu, 25 Mei 2016.

Program yang digagas di Kecamatan Gekbrong ini diharapkan menjadi kebijakan Pemerintah Kabupaten Cianjur untuk menanam padi secara organik. Menurut Herman, Kabupaten Cianjur sebagai penghasil beras nasional harus mulai mengurangi produksi padi nonorganik.

“Kita harus mulai membuat program menanam padi organik dengan skala besar tingkat kabupaten. Mudah-mudahan dimulai dari Kecamatan Gekbrong dan ke depannya bisa terus berkembang,” ucapnya.

Direktur Sustainable Development Aqua Grup Karyanto Wibowo menjelaskan, program pertanian sehat ini merupakan komitmen perusahaan untuk berkontribusi dengan warga. Menurut dia, pabriknya ada di Kecamatan Gekbrong, sehingga harus punya koneksi dengan lingkungan sekitar.

“Penanaman padi organik berhubungan dengan proteksi sumber air karena mengurangi penggunaan pupuk kimia. Sebab, semua harus terkoneksi dengan air. Selain itu, petani bisa merasakan manfaat secara langsung,” ujarnya.

Karyanto menambahkan, perusahaan juga memfasilitasi pemasaran karena padi organik adalah sesuatu yang baru. “Kerja sama ini diarahkan, agar beras sehat hasil produksi Hipoci dapat didistribusikan oleh para pengelola Aqua Home Service yang biasa menjual Aqua galon,” tuturnya.

Sumber:
https://nasional.tempo.co/read/news/2016/05/25/173774023/tanam-padi-organik-gekbrong-jadi-pusat-pertanian-sehat

Untung Besar dari Pertanian Organik dan Terlepas dari Jeratan Tengkulak

Itulah sepenggal kata yang dirasakan Bapak Yahya (berjaket hitam) dari hasil jeri payahnya sebagai petani padi. Lebih dari 5 tahun sudah saya menjadi petani dengan mengikuti pola pertanian umum yang ada di kampung saya. Setelah saya amati dan saya simpulkan bahwa “ripuh jadi petani teh” dengan kata lain susahnya bergelut di bidang pertanian, kalimat ini muncul karena saya merasakan langsung dampak dari pola pertanian di kampung saya. Akan tetapi hal ini tidak membuat saya mengurungkan niat dan akan tetap menjadi “patani”, niat ini saya lanjutkan dengan mencari-cari pola pertanian lain yang tepat dan sesuai dengan harapan saya. Pada saat itu secara tidak sengaja saya bertemu dengan Pak Sugandi yang merupakan teman saya yang berasal dari desa tetangga, Pak Sugandi menanyakan bagaimana keberhasilan usaha pertanian yang saya jalani, akhirnya singkat cerita saya sampaikan

Pada saat itu Pak Sugandi menawarkan alternatif solusi untuk bergabung dengan HIPOCI dan mengelola pertanian padi secara organik. Akan tetapi terlebih dahulu saya di ajak untuk mengikuti pertemuan dan pelatihan-pelatihan seputar pengelolaan pertanian padi secara organik, tidak berfikir panjang pada musim tanam saya mulai mengaplikasikan pola pertanian padi organik ini pada setengah dari lahan sawah yang saya kelola dan lahan yang setengah lagi saya tetap lakukan pola lama untuk pembanding, total lahan yang saya kelola adalah 1 hektar. Sampai pada musim panen tiba, saya pun menjual gabah ke HIPOCI dengan harga yang sangat menjanjikan yaitu Rp.5300 untuk setiap kilonya dan jika dibandingkan harga beli gabah konfensional hanya Rp. 4700 setiap kilonya. Setelah dihitung keseluruhan penjualan gabah padi organik saya yaitu Rp.23.000.000 hasil ini membuat saya semakin senang karena pada musim-musim sebelumnya nilai jual gabah saya ke tengkulak hanya berkisar Rp. 13.000.000 sampai Rp.15.000.000 saja. Hal ini terjadi karena nilai beli tengkulak yang rendah dan sistem jual beli berupa “di borong”. Sekarang saya sadar bahwa sebenarnya menjadi petani itu tidak “ripuh” dan pada musim selanjutnya saya akan mengorganikan semua lahan sawah saya dan akan mengajak petani lain untuk bergabung ke HIPOCI.