BINA LESTARI (Pusat)

BINA LESTRI yang terdapat di kp. Bangkuwong merupakan pusat informasi bagi pengelola sampah.Di BINA LESTARI pusat berfungsi sebagai pengumpul dari area menejemen sampah lainya. Melakukan pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen bisnis atau usaha persampahan. Di BINA Lestari pusat tidak ada tabungan, karena hanya berfungsi sebagai pengepul dan penjual barang dari pasokan area dibawahnya.

struktur-bank-sampah

Proses Pengumpulan dan penjualan Sampah Non Organik Bernilai di BINA LESTARI

proses-bank-sampah

Adapun dibawah koordinasi BINA LESTARI saat ini terdapat tiga DEPO SAMPAH yang menerapkan manajemen BANK SAMPAH yaitu:

Manajemen Area Barukusumah

Memiliki konsep yang sama seperti Bank Sampah pada umumnya. Bank Sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan. Namun yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Warga yang menabung yang juga disebut nasabah memiliki buku tabungan dan dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan dengan sampah seharga uang yang dipinjam. Sampah yang ditabung ditimbang dan dihargai dengan sejumlah uang. Nantinya sampah akan dijual ke pengepul-pengepul sampah. Sedangkan sampah organik dapat dikelola masing-masing rumahtangga atau disetorkan untuk dibuat pupuk organik padat maupun pupuk organik cair. Depo Sampah ini adalah rintisan tahun 2014 yang merupakan awal penerapan manajemen bank sampah.

Guna mendukung kegiatan Bank Sampah Barukusumah pada tahun 2014 dan 2015 diberikan bantuan sarana dan prasarana berupa tempat sampah 2 in 1untuk memisahkan sampah organik dan sampah anorganik. Satu buah timbangan untuk menimbang sampah-sampah yang di setorkan ke Bank Sampah Sejahtera. Sarana penampungan sampah juga dibangun untuk Depo sampah Barukusumah.

Saat ini jumlah anggota dari DEPO sampah Barukusumah sebanyak 130 orang yang menjadi nasabah bank sampah. Diketuai oleh Bapak Kamal, mayoritas anggotanya adalah ibu-ibu rumahtangga.

Proses Tabungan Bank Sampah Barukusumah:

proses-bank-sampah-2

Manajemen Area Mangkak

Terdiri dari ibu-ibu Himpunan Wanita Tani (HWT) HIPOCI dan kumpulan para pengrajin sampah anorganik. Seperti pengrajin pada umumnya, para pengrajin ini adalah orang-orang yang memiliki keterampilan untuk mengolah bahan pokok menjadi barang kerajinan. Kerajinan adalah hal yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan (kerajinan tangan). Kerajinan yang dibuat biasanya memiliki bahan baku sampah anorganik dan barang-barang bekas seperti botol bekas, kardus, dan plastik makanan atau minuman. Dari kerajinan ini menghasilkan hiasan atau benda seni maupun barang pakai.

Selain dari sampah anorganik yang dijadikan kerajinan, kumpulan ibu-ibu ini juga memproduksi MOL/pupuk cair dan kompos padat untuk dimanfaatkan meyirami tanaman pekarangan rumah berupa sayuran dan tanaman obat.

Kegiatan yang dilakukan oleh Kelompok ibu-ibu ini mendapat dukungan dalam bentuk pengadaan pameran hasil pengolahan sampah. Dukungan untuk kegiatan di wilayah Mangkakdiberikan bantuan berupa tong sampah 2in1, gerobak sampah, timbangan dan pelatihan-pelatihan serta studi banding. Di dalam kegiatannya, kelompok juga menghadapi kendala yang masih menjadi ganjalan bagi keberlangsungan kegiatan ini. Kendala terberat muncul dari segi pemasaran produk hasil olahan sampah. Hingga saat ini pengrajin sampah anorganik belum memiliki konsumen tetap yang rutin membeli produk mereka. Memasarkan produk hasil pengolahan sampah anorganik dianggap masih cukup sulit. Sulitnya memasarkan produk olahan sampah ditambah kesibukan masing-masing warga membuat kegiatan ini menjadi kurang aktif.

Manajemen bank sampah juga diterapkan di area ini, saat ini jumlah nasabah sebanyak 32 orang. Diketuai oleh Ibu Sofi dan beranggotakan ibu-ibu rumahtangga petani. Dibentuk tahun 2015.

Manajemen Area Bangkuwong

Dibentuk untuk mengelola sampah-sampah organik khususnya dan anorganik yang ada di wilayah Bangkuwong Kaler. Kelompok ini berkaitan langsung dengan kegiatan pengomposan (composting) di HIPOCI. Sampah-sampah organik dikumpulkan lalu diolah dengan metode composting agar menjadi pupuk kompos. Composting adalah proses pengendalian penguraian secara biologi dari bahan organik, menjadi produk seperti humus yang dikenal sebagai kompos. Penguraian bahan organik itu (disebut juga dekomposisi) dilakukan oleh mikro-organisme menghasilkan senyawa yang lebih sederhana. Pada saat composting terjadi proses-proses perubahan secara kimia, fisika dan biologi. Tidak hanya pupuk kompos padat, pupuk organik juga diproduksi oleh kelompok ini dengan pencampuran dari urine kelinci dan ampas cair limbah rumahtangga.

Kelompok composting menerima sampah-sampah organik dari masyarakat yang diangkut oleh tukang sampah dengan menggunakan becak sampah. Sampah-sampah organik tersebut kemudian dipotong-potong hingga menjadi bagian-bagian kecil dengan menggunakan mesin pencacah. Setelah itu, potongan sampah organik tersebut diletakkan didalam bak penampungan, diberi cairan urine kelinci dan ditutup dengan rapat. Campuran tersebut dibalik/diaduk setiap satu minggu sekali dan disimpan didalam bak tertutup selama kurang lebih satu bulan. Hasil pengolahan sampah organik berupa pupuk kompos siap pakai yang telah dikemas didalam plastik satu kilogram. Pupuk-pupuk kompos padat atau cair ini sudah siap dipasarkan.

Untuk memperlancar kegiatan diberikan bantuan berupa ember, sekop, satu unit bak composting, satu gerobak sampah, tong sampah 2in1. Serta diberikan pelatihan pembuatan lobang biopori untuk resapan air dan pengomposan.

Pengolahan Sampah Organik Rumahtangga Di Kp. Bangkuong Desa Kebonpeteuey:

proses-bank-sampah-3

Manajemen bank sampah juga diterapkan di area ini, saat ini jumlah nasabah sebanyak 86 orang. Diketuai oleh Bapak Ali dan beranggotakan ibu-ibu rumah tangga petani. Dibentuk tahun 2015.

Dari kegiatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dilakukan oleh BINA LESTARI dan Manajemen Area dibawahnya terdapat kendala-kendala yang dialami. Namun demikian, segala keadaan terpuruk yang dialami sebisa mungkin ditangani dan dinetralisir oleh pengurus.

Segala bentuk kebutuhan diusahakan pemenuhannya oleh pengurus kelompok masing-masing. Baik itu dari segi kendala sarana dan prasarana, pencarian dana guna penguatan modal hingga penyelesaian konflik internal dan lain sebagainya. Salah satu kendala yang dihadapi oleh BINA LESTARI  adalah modal yang terkadang masih kurang untuk sebuah usaha yang baik ketika menggeluti usaha bisnis sampah. Kendala modal tersebut mencakup keterbatasan perputaran uang/modal ketika terjadi penurunan harga sampah anorganik pada pengumpul besar yang membeli sampah.

Jumlah sampah yang dikelola BINA LESTARI meningkat

Jumlah sampah yang dikelola oleh BINA LESTARI dan DEPO sampah di ketiga area manjemen di Desa Kebon Peuteuy terus meningkat. Tahun 2015 jumlah sampah yang dikelola dan dijual oleh BL sebanyak 7,25 ton.

Tonase sampah anorganik yang dikelola oleh BINA LESTARI tahun 2015 berdasrakan jenis sampah:

grafik-limbah