Pengembangan peternakan domba sebagai salah satu kelompok usaha dari program IFS telah dimulai sejak tahun 2011 sampai tahun 2015. Kelompok peternakan ini dalam perjalanannya mengalami berbagai kendala yang menjadi tantangan program. Kendala-kendala yang dihadapi baik dari sisi kelembagaan kelompok yang relatif masih belum kuat maupun kendala dalam hal teknis pemeliharaan domba.

Kelemahan kelembagaan kelompok misalnya berdampak pada terjadinya kasus pencurian ternak, yang seharusnya kejadian ini dapat diantisipasi dengan peran kelembagaan kelompok misalnya adanya jadwal ronda rutin yang dilakukan oleh anggota kelompok. Meskipun sudah dilakukan pengamanan yang dilakukan secara perorangan masing-masing pemilik, akan lebih efektif lagi jika kegiatan pengamanan di koordinir oleh kelompok. Kendala teknis pemeliharaan juga di hadapi kelompok yang berdampak salah satunya pada adanya ternak yang mengalami kematian. Sehingga peningkatan kapasitas anggota peternak dalam hal teknis pemeliharaan menjadi penting untuk dilakukan sehingga kejadian kematian ternak akan lebih dapat di antisipasi dengan keahlian masing-masing peternak. Namun secara umum, pengembangan peternakan domba program IFS ini bisa dikatakan baik mengingat sampai dengan tahun 2015 ini kelompok peternakan masih eksis baik dari sisi anggota kelompok yang masih aktif maupun dari sisi keberadaan ternak domba yang dipelihara. Lebih detailnya gambaran perkembangan peternakan domba program IFS ini seperti disajikan dalam tabel dibawah ini.

grafik-peternakan

Grafik di atas menggambarkan perkembangan peternakan domba dari tahun 2011 sampai tahun 2015. Jika dilihat dari produksi ternak domba, terlihat adanya fluktuatif jumlah populasi domba di tiga tahun pertama. Justru terjadi peningkatan jumlah peternak anggota yang bergabung menjadi anggota kelompok di tiga tahun pertama program. Perkembangan jumlah populasi domba dari bantuan awal sebanyak 86 ekor, menjadi 115 ekor di tahun 2011 namun tahun 2012 mengalami penurunan jumlah populasi domba menjadi 106 ekor. Tahun 2013 populasi domba bertambah menjadi 134 ekor dan tahun 2014 populasi domba menjadi 96 ekor, pada tahun 2015 produksi domba menurun menjadi 55 ekor. Terjadinya fluktuatif jumlah populasi domba bahkan sampai penurunan jumlah domba di dua tahun terakhir disebabkan oleh : 1). Tidak adanya penambahan bantuan ternak domba; 2). Adanya pemindahan kepemilikan aset kepada peternak; 3). Adanya domba yang mengalami kematian dan 4). Kasus pencurian.

Kondisi fluktuasi yang dialami kelompok pengembangan peternakan domba pada akhirnya juga berpengaruh pada nilai aset program dalam bentuk keuntungan penjualan domba di kelompok peternakan domba yang juga mengalami kondisi yang fluktuatif juga. Pada awal program tahun 2011 keuntungan kelompok dari hasil penjualan domba sebesar Rp 28 juta, tahun 2012 mendapatkan keuntungan sebesar Rp 41,3 juta, tahun 2013 mendapat keuntungan sebesar Rp 30,65 juta dan pada tahun 2014 mendapatkan keuntungan sebesar 20,8 juta, dan pada tahun 2015 penjualan domba mendapatkan keuntungan sebesar 55 juta. Kondisi fluktuasi dari nilai keuntungan penjualan domba dipengaruhi oleh : 1). Jumlah domba yang dijual; 2). Harga pasar pada saat penjualan domba. Akumulasi keuntungan penjualan domba kelompok peternakan domba HIPOCI ditampilkan pada grafik di bawah ini.

grafik-peternakan-2