Untung Besar dari Pertanian Organik dan Terlepas dari Jeratan Tengkulak

Itulah sepenggal kata yang dirasakan Bapak Yahya (berjaket hitam) dari hasil jeri payahnya sebagai petani padi. Lebih dari 5 tahun sudah saya menjadi petani dengan mengikuti pola pertanian umum yang ada di kampung saya. Setelah saya amati dan saya simpulkan bahwa “ripuh jadi petani teh” dengan kata lain susahnya bergelut di bidang pertanian, kalimat ini muncul karena saya merasakan langsung dampak dari pola pertanian di kampung saya. Akan tetapi hal ini tidak membuat saya mengurungkan niat dan akan tetap menjadi “patani”, niat ini saya lanjutkan dengan mencari-cari pola pertanian lain yang tepat dan sesuai dengan harapan saya. Pada saat itu secara tidak sengaja saya bertemu dengan Pak Sugandi yang merupakan teman saya yang berasal dari desa tetangga, Pak Sugandi menanyakan bagaimana keberhasilan usaha pertanian yang saya jalani, akhirnya singkat cerita saya sampaikan

Pada saat itu Pak Sugandi menawarkan alternatif solusi untuk bergabung dengan HIPOCI dan mengelola pertanian padi secara organik. Akan tetapi terlebih dahulu saya di ajak untuk mengikuti pertemuan dan pelatihan-pelatihan seputar pengelolaan pertanian padi secara organik, tidak berfikir panjang pada musim tanam saya mulai mengaplikasikan pola pertanian padi organik ini pada setengah dari lahan sawah yang saya kelola dan lahan yang setengah lagi saya tetap lakukan pola lama untuk pembanding, total lahan yang saya kelola adalah 1 hektar. Sampai pada musim panen tiba, saya pun menjual gabah ke HIPOCI dengan harga yang sangat menjanjikan yaitu Rp.5300 untuk setiap kilonya dan jika dibandingkan harga beli gabah konfensional hanya Rp. 4700 setiap kilonya. Setelah dihitung keseluruhan penjualan gabah padi organik saya yaitu Rp.23.000.000 hasil ini membuat saya semakin senang karena pada musim-musim sebelumnya nilai jual gabah saya ke tengkulak hanya berkisar Rp. 13.000.000 sampai Rp.15.000.000 saja. Hal ini terjadi karena nilai beli tengkulak yang rendah dan sistem jual beli berupa “di borong”. Sekarang saya sadar bahwa sebenarnya menjadi petani itu tidak “ripuh” dan pada musim selanjutnya saya akan mengorganikan semua lahan sawah saya dan akan mengajak petani lain untuk bergabung ke HIPOCI.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 17 =